Tsunami Informasi, Hoax dan ‘Post Truth Society’

August 4, 2017
Admin

Sebelum hidup di era informasi, masyarakat mendapatkan berita negatif secara ‘sumir di telinga’, tapi kini semuanya sudah berubah. Rasa ketidaksukaan, kebencian dan bahkan fitnah terbaca dengan jelas melalui tampilan halaman-halaman internet.

Mereka yang tidak siap dengan perubahan ini tentu saja merasa gagap dan terkejut. Akhirnya menjadi korban dari informasi yang salah. Orang tidak lagi mengedepankan fakta saat menerima informasi namun lebih mempercayai berita yang sesuai dengan emosi dan preferensinya.

Mengapa masyarakat gampang tertipu oleh berita hoax?

Dikutip dari Detikcom (4/08/2017), Sosiolog Fisipol UGM, Muhammad Najib Azca menjelaskan fenomena ini.

Menurutnya, saat ini masyarakat dunia masuk di dalam Post Truth Society. Masyarakat mengalami tsunami informasi sehingga sulit menyaring informasi yang akurat.

“Problem sekarang bukan kelangkaan informasi, tapi informasi berlebih. Tsunami informasi sehingga ada problem menyaring informasi yang akurat. Sehingga justru sebagian besar tidak akurat. Dia serap info tidak akurat,” kata Najib.

Post Truth Society menurut Najib adalah masyarakat yang tidak mementingkan fakta dalam proses komunikasi sosial. Prefensinya pada kesukaan, bukan kepada kebenaran.

“Hanya mengambil sikap hanya pada yang ia sukai dan yakini. Lebih memuaskan dimensi emosi dari pada rasionalitas. Lebih banyak digerakan aspek emosi dari pada rasio dan kognisi,” jelasnya.

Tergerusnya kepercayaan masyarakat kepada institusi negara dan media massa yang selama ini menyediakan informasi juga menjadi masalah lain. Hadir otoritas baru yang memberikan informasi, namun informasinya tidak benar. Akibatnya timbul perselisihan saat berkomunikasi, karena ada sebagian orang berpegangan bukan kepada fakta.

“Makanya hoax gampang dipercaya orang, karena mudah mengabaikan aspek kebenaran faktual, hanya menyenangkan secara emosional. Tidak punya basis rasionalitas, tapi informasinya diterima karena kedekatan emosional,” tutupnya.

Sekarang kita mengerti, kenapa di masyarakat saling berbeda pandangan, saling olok dengan aneka julukan negatif. Kita tentu tak asing dengan istilah Sumbu Pendek, Bumi Datar, Kecebong, Bani Taplak dan lain-lain.

Mari perbanyak literasi agar bisa menyaring informasi yang berdasarkan fakta, bukan fitnah dan hoax.

 

Sumber : https://news.detik.com/berita/d-3586510/kaum-bumi-datar-dan-masyarakat-yang-tidak-suka-fakta

 

 

 

 

 

 

Article Categories:
Hoax · Sosial

1 Comment

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *